Membicarakan cinta
selalu saja indah. Apalagi ketika usia memang sudah cukup untuk mengalami dan
merasakan cinta. Seolah-olah dunia penuh berisi bunga bermekaran, penuh
warna-warni. Gula Jawa pun serasa coklat. Kalau ini sih lidahnya pasti sariawan
sehingga susah membedakan rasa hehe...
Baiklah sobat muda
muslim, cinta di sini kita batasi cinta terhadap lawan jenis. Cinta yang
menghasilkan banyak kisah romantis di dunia semacam Romeo-Juliet,
Sampek-Engtay, hingga Syah Jahan-Mumtaz Mahal yang menghasilkan bangunan Taj
Mahal. Belum lagi kisah Bandung Bondowoso yang naksir Roro Jonggrang sehingga
menyanggupi membangun candi seribu dalam semalam.
Terlepas kisah tersebut
dongeng atau bukan, abadi atau patah di tengah jalan, kita bisa melihat
dahsyatnya kekuatan cinta. Karena kedahsyatan yang dimilikinya, tak heran Islam
memberikan rambu-rambu tertentu sebagai aturan. Ketika cinta menggoda,
kecerdasan manusia entah itu laki-laki atau perempuan bisa meluncur ke titik
nadir alias tak berfungsi. Ini semua akan menjadi awal malapetaka bila tak segera
disikapi dengan bijak.
Mahabenar Allah yang
memberikan aturan bukan hanya curative atau mengobati tapi juga preventive atau
pencegahan. Jauh hari bahkan ketika masih kecil, tiap anak muslim telah diajari
batasan aurat. Terpisahnya kehidupan laki-laki dan perempuan kecuali untuk
alasan syari. Ghodul Bashor atau menundukkan pandangan dari hal yang belum
halal baginya hingga diharamkannya berduaan karena pihak ketika adalah setan.
Ini semua adalah
pencegah agar benih cinta yang belum seharusnya hadir bisa diminimalkan. Tapi
ketika segala upaya telah diusahakan, cinta itu masih tetap hadir dan menggoda,
lantas apa yang harus dilakukan? Apalagi di tengah kehidupan yang jauh dari
syariat Islam seperti hari ini, godaan syahwat itu begitu meresahkan.
....Cinta yang menggoda
itu bukan cinta yang sebenarnya. Bukankah godaan itu sifatnya hanya main-main
saja?...
Bila memang sudah siap
lahir dan batin, maka muara cinta itu adalah pernikahan. Bila godaan cinta
begitu kuat, tak ada jalan lain kecuali menghalalkannya. Setiap anak manusia
baik laki-laki maupun perempuan yang telah memasuki masa baligh, maka ia telah
pantas untuk menikah. Tak ada istilah pernikahan dini atau terlalu muda. Ini
adalah istilah yang dihembuskan kaum kuffar untuk menghalangi pemuda Islam segera
menikah dan terus bermaksiat di masa lajangnya. Naudzubillah.
Godaan cinta terhadap
lawan jenis adalah pintu setan untuk mencari teman bila tak segera disahkan.
Ketika terbentur satu dan lain hal, masih sekolah dan belum berpenghasilan
misalnya, maka berpuasalah. Dengan berpuasa, maka godaan cinta bisa diredam.
Beraktivitaslah, jangan manjakan perasaan dan pikiranmu pada si dia yang telah
membuatmu makan tak nyenyak dan tidur tak enak, upz...kebalik ya.
Cinta yang menggoda itu
bukan cinta yang sebenarnya. Bukankah godaan itu sifatnya hanya main-main saja?
Cinta yang sebenarnya dan bukan hanya sebatas godaan itu datang nanti ketika
laki-laki dan perempuan telah disatukan dalam akad nikah. Dan ketika akad nikah
ini masih terasa jauh untuk dijangkau maka tepis godaan ini seperti kita
menepis godaan setan yang akan menyeret kita ke neraka. Istighfar.
Yakinlah bahwa ketika
kita kuat dan tak mempan untuk digoda, kadar godaan itu semakin lama akan
berkurang kemudian hilang. Akan ada saatnya nanti ketika rasa cinta itu terasa
begitu lezat yaitu saat satu sama lain telah halal untuk bercengkerama dan
bermesraan. Dan saat itu adalah saat ketika setiap pertemuan menjadi ladang
pahala yang bernilai barokah, insya Allah.
0 comments: